Authentic Indonesian Modeof Individual Minds

Pikiran

10 Cara Mudah untuk Menghemat Uang di Masa Krisis

Rupiah yang melemah tidak langsung terasa, sampai harga sembako ikut naik. Sepuluh kebiasaan kecil yang bisa dikerjakan hari ini juga, lengkap dengan hitungannya.

Penulis
Panca Purnamasari
Terbit
19 Januari 2026
Durasi
11 menit baca
Bagikan

Rupiah yang melemah terhadap dolar bagi sebagian orang mungkin tidak langsung terasa. Tapi kalau pelemahannya berlangsung terus-menerus, dampaknya pelan-pelan sampai juga ke orang banyak. Nilai tukar yang tidak stabil, apalagi yang cenderung terus turun, berpengaruh besar pada ekonomi makro Indonesia.

Indonesia belum lepas dari utang luar negeri, baik yang ditanggung pemerintah maupun swasta. Begitu permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional naik, nilai rupiah turun. Yang terkena bukan cuma pelaku usaha, tapi juga harga kebutuhan pokok yang sebagian bahannya masih diimpor.

Salah satu cara orang biasa bertahan di masa seperti itu adalah berhemat. Gunanya bukan cuma menabung untuk berjaga-jaga, tapi juga mengumpulkan untuk sesuatu yang memang diinginkan: berlibur, atau membeli barang yang selama ini ditunda.

Awalnya memang tidak mudah. Tapi sepuluh cara di bawah ini semuanya bisa dimulai hari ini juga, tanpa perlu mengubah apa pun yang besar.

01Membawa bekal makan siang

Makan siang di warung dekat tempat kerja menghabiskan kira-kira sepuluh sampai lima belas ribu rupiah sekali makan. Membawa bekal dari rumah bisa memangkasnya sekitar separuh. Kelihatannya kecil, tapi yang kecil ini terjadi setiap hari kerja, dan di situlah jumlahnya menumpuk.

02Mengganti kopi mahal dengan kopi hitam

Ada kebiasaan lama di kalangan pekerja dan penyuka kopi: mengobrol sambil minum di kafe. Yang dipesan jarang kopi hitam; lebih sering cappuccino atau latte, yang harganya beberapa kali lipat. Kalau yang dicari sebetulnya aroma dan suasananya, kopi hitam biasa mengerjakan hal yang sama dengan seperempat sampai separuh harganya.

03Membuat daftar belanjaan

Belanja bulanan sebaiknya dimulai dari catatan, bukan dari rak. Daftar yang terperinci membuat pengeluaran lebih terarah dan memperkecil peluang membeli yang tidak direncanakan.

Ada untung keduanya: yang memang dibutuhkan tidak terlewat, dan yang tidak dibutuhkan tidak ikut terbawa. Daftar itu juga yang menjaga supaya kebutuhan pokok terpenuhi lebih dulu sebelum yang lain-lain.

04Membandingkan harga sebelum membeli

Belanja daring menghemat bukan cuma uang, tapi juga waktu dan tenaga. Harga dari satu toko ke toko lain bisa dibandingkan tanpa perlu keluar rumah, dan ulasan pembeli sebelumnya membantu menilai barangnya sebelum uang berpindah.

Yang perlu dihitung ikut: ongkos kirimnya. Harga barang yang lebih murah beberapa ribu bisa habis oleh ongkos kirim yang lebih mahal, dan diskon yang menarik sering baru berlaku di atas belanja minimum tertentu. Bandingkan totalnya, bukan harga barangnya saja.

05Meminta resep obat generik

Obat generik dan obat bermerek memakai zat aktif dan takaran yang sama, dan sebelum beredar harus lulus uji bioekivalensi, dibuktikan bekerja setara di dalam tubuh. Yang berbeda terutama namanya dan harganya, dan selisihnya tidak kecil untuk obat yang dipakai berulang. Tinggal memintanya saat diperiksa.

06Mencari hiburan yang gratis atau murah

Media lokal dan internet cukup untuk menemukan hiburan yang tidak mahal. Menonton di bioskop pun bisa memakai harga nonton hemat di hari biasa yang tidak berdekatan dengan hari libur, yang memangkas sekitar seperempat harga tiket akhir pekan.

Yang tinggal di Bandung punya pilihan yang bahkan tidak perlu tiket: taman-taman tematik seperti Taman Film dan Taman Jomblo, atau museum-museum kotanya.

07Meminjam buku daripada membelinya

Perpustakaan daerah atau kota menyimpan hiburan yang sudah dibayar orang lain: buku dan majalah yang bisa dibaca tanpa membelinya. Untuk yang membaca beberapa judul sebulan, selisihnya dengan membeli sendiri jauh lebih besar daripada yang dikira.

Ada untungnya yang tidak berupa uang. Rak perpustakaan menyodorkan judul yang tidak akan kita cari sendiri, dan membaca memang mengubah cara berpikir seseorang. Datang ke sana juga membuat tempatnya tetap hidup: perpustakaan yang ramai lebih mudah dipertahankan daripada yang kosong.

08Mengobrol lewat pesan, bukan telepon

Hampir semua operator seluler sekarang menjual paket data berbasis kuota, sebagian dengan bonus di jam-jam tertentu. Yang perlu dikerjakan cuma memilih paket yang benar-benar sesuai pemakaian. Mengobrol lewat pesan, surel, atau media sosial jauh lebih murah daripada menelepon dengan pulsa, untuk keperluan yang sama.

09Berjalan kaki daripada naik kendaraan

Orang Jepang terbiasa berjalan kaki bukan cuma karena biaya transportasi dan parkir di sana mahal, tapi juga karena berjalan diajarkan sejak kecil: anak-anak sekolah di sana berangkat sendiri dengan kaki, dan itu dianggap keterampilan dasar, bukan kesulitan.

Kebiasaan itu bisa ditiru, dan untungnya dobel: tubuh dan pikiran ikut mendapat bagiannya, sementara ongkos ojek atau angkot untuk jarak yang sebenarnya dekat berhenti keluar.

10Mencatat pengeluaran setiap hari

Banyak orang tidak tahu persis berapa yang ia keluarkan hari ini, karena memang tidak pernah dicatat. Catatan harian menutup lubang itu, dan yang tercatat cenderung lebih dipikirkan sebelum dibeli.

Dicatat beberapa minggu, polanya mulai kelihatan: ke mana uangnya sebetulnya pergi, dan di bagian mana yang masih bisa dikurangi tanpa terasa. Dari situ merencanakan bulan berikutnya jadi jauh lebih mudah, karena yang direncanakan angka yang sungguhan, bukan perkiraan.

Dua yang paling mudah dihitung

Dari sepuluh cara di atas, dua di antaranya bisa langsung diangkakan. Keduanya kecil setiap harinya, dan itulah yang membuatnya mudah diremehkan.

KebiasaanSehariSetahun
Bawa bekalRp 5.000–7.500Rp 1,26–1,89 jt
Jalan kakiRp 5.000Rp 1,26 jt
Setahun di sini 252 hari kerja. Harganya tentu berubah dari waktu ke waktu; yang tidak berubah cara menghitungnya: berapa yang dihemat sehari, dikalikan berapa hari kita benar-benar mengerjakannya.

Di luar berhemat, ada satu hal yang lebih menentukan: tidak membeli barang kalau belum bisa membayarnya penuh. Berutang untuk keperluan konsumtif membatalkan hasil penghematan berbulan-bulan hanya dalam satu transaksi.

Dan yang paling mendasar, membedakan kebutuhan dari keinginan. Begitu kebutuhan didahulukan, pengeluaran yang tidak perlu berkurang dengan sendirinya, tanpa harus dilarang satu per satu.

Masih banyak cara lain yang bisa dikerjakan. Yang menentukan bukan daftarnya, melainkan tekad untuk menjalankannya sampai jadi kebiasaan. Selamat berhemat.

Tulisan berikutnya