Plugo Store, Alternatif Shopify untuk Brand Lokal
Setahun setelah pindah ke Shopify, saya hitung ulang. Potongan tiap transaksinya ternyata hampir dua kali lipat.

- Penulis
- Abdurrahim
- Terbit
- 2 Mei 2024
- Durasi
- 8 menit baca
Biaya berjualan online naik dari beberapa arah sekaligus. Komisi lokapasar naik tiap tahun, harga bahan ikut naik setelah pandemi, dan biaya bulanan situs sendiri juga naik tanpa disertai kenaikan penjualan yang sepadan.
Saya menulis sebelumnya soal pindah ke Shopify pada 2023. Setahun berjalan, saya hitung ulang pengeluarannya, dan yang ketemu bukan biaya bulanannya, melainkan potongan tiap transaksinya.
Apa itu Plugo
Plugo Store platform situs toko online asal Korea yang dirancang untuk pasar Indonesia. Bedanya dengan Shopify dan WooCommerce terasa sejak awal: pembayaran dan pengiriman sudah menyatu di dalamnya, tidak perlu dipasangi aplikasi tambahan satu per satu.
Terus terang desainnya tidak seindah Shopify dan fiturnya tidak selengkap WooCommerce. Tapi yang dibutuhkan brand lokal sehari-hari bukan itu: situs yang cepat dimuat, mudah diurus, dan mudah dibelanjai. Untuk itu Plugo sudah cukup, dan brandnya tetap terlihat profesional.
Biayanya
Yang saya bandingkan paket Business di Plugo dengan paket Basic di Shopify, dua paket yang sama-sama paling bawah dan sama-sama cukup untuk brand kecil.
| Plugo | Shopify | |
|---|---|---|
| Bulanan | Rp411 rb | Rp400 rb |
| Pajak | sudah | belum |
| Komisi | 2,5% | 2% |
| Gerbang bayar | termasuk | ±2% |
| Potongan | 2,5% | ±4% |
Biaya bulanannya hampir sama, dan itu yang membuat saya dulu tidak melihat apa-apa. Yang membedakan baris terakhir. Di Shopify, potongan 2 persen itu justru muncul karena gerbang pembayarannya dari luar, dan di Indonesia memang tidak ada pilihan lain: Shopify Payments belum tersedia di sini. Jadi 2 persen Shopify ditambah sekitar 2 persen Xendit, hampir 4 persen dari tiap transaksi. Di Plugo, 2,5 persennya sudah termasuk pembayaran.
Selisihnya satu setengah persen. Kecil di satu struk, tapi di omzet seratus juta setahun, itu satu setengah juta yang tidak ke mana-mana.
Pengiriman
Di Plugo, tarif kurir dan nomor resi sudah ikut di dalam, tanpa komisi pengiriman. Yang dipotong cuma kalau ikut program bebas ongkir, sebesar 3,5 persen.
Di Shopify, tarif yang dihitung langsung oleh kurirnya baru ikut di paket yang jauh lebih mahal. Waktu itu paket Advanced, 399 dolar sebulan. Di paket Basic, jalannya lewat aplikasi tambahan seperti Biteship, dan aplikasi itu punya biayanya sendiri. Soal memilih kurirnya saya tulis terpisah di 15 Jasa Pengiriman Terpopuler di Indonesia.
Yang tidak masuk tabel
Tiga hal yang ternyata paling sering saya pakai, dan tidak satu pun berupa angka.
- Plugo Links, halaman berisi kumpulan tautan, yang dipakai menggantikan Linktree. Karena ia satu tempat dengan tokonya, produknya bisa langsung muncul di situ.
- Plugo Pos, untuk mencatat pesanan di toko fisik dan di pameran, sehingga penjualan luring dan daring tercatat di satu tempat.
- Plugo Sync, untuk menyambungkan stok dengan lokapasar, jadi barang yang habis di satu tempat ikut habis di tempat lain.

Untuk promosi, Plugo punya diskon toko, diskon pengiriman, beli satu gratis satu, dan voucher, dan semuanya bisa digabung. Shopify punya yang serupa, tapi menggabungkannya butuh aplikasi tambahan. Penarikan dana di Plugo bisa seketika atau menunggu, sementara di Shopify sehari kemudian.
Satu hal yang justru lebih baik di Shopify: sambungan ke media sosial. Ekosistem aplikasinya jauh lebih luas, dan itu terasa kalau jualannya banyak bergantung pada Instagram dan TikTok.
Penilaian setelah dipakai
Yang di bawah ini penilaian saya sendiri dari pemakaian sehari-hari, bukan hasil pengukuran. Angkanya dari lima.
| Plugo | Shopify | |
|---|---|---|
| Mengurus situs | 4,5 | 4 |
| Keindahan desain | 3 | 4,5 |
| Kecepatan muat | 3 | 3 |
| Kemudahan beli | 4 | 3 |
| Proses pesanan | 4 | 3 |
| Media sosial | 3 | 4 |
| Layanan bantuan | 3 | 3 |
Bagaimana dengan WooCommerce
WooCommerce sendiri gratis, dan itu yang sering disalahpahami. Yang dibayar hosting dan paket terkelolanya, ditambah tema dan pengaya yang hampir selalu berbayar kalau tokonya sudah serius.
Paket yang saya lihat waktu itu sekitar Rp534 ribu sebulan, dibayar setahun di muka. Lebih mahal daripada keduanya, dengan kelebihan yang nyata juga: tidak ada yang bisa menaikkan komisinya, karena memang tidak ada komisinya. Bayarannya waktu dan keahlian untuk mengurusnya sendiri.
Kesimpulannya
Pro
- Jauh lebih murah setelah semua potongan dihitung, bukan cuma biaya bulanannya.
- Mudah diurus, dan dibuat memang untuk kebutuhan Indonesia.
- Pembayaran dan pengiriman sudah menyatu, tanpa aplikasi tambahan.
- Plugo Links, Plugo Pos, dan Plugo Sync sudah satu paket.
Kontra
- Pilihan desainnya terbatas. Masih bisa dibuat menarik, tapi butuh sedikit akal.
- Untuk memakai rekening sendiri, harus naik ke paket Entrepreneur yang lebih mahal.
- Sambungan ke media sosial belum seluas Shopify.
Yang saya bawa dari hitungan ini satu hal. Waktu memilih platform, yang dibandingkan orang hampir selalu biaya bulanannya, karena angka itu yang dipasang besar-besar di halaman harga. Itu juga yang jadi alasan saya akhirnya membangun sendiri. Padahal yang benar-benar menggerus justru potongan per transaksi, dan angkanya baru terasa setelah setahun berjalan.