Bakteri Penyebab Bau Ketiak dan Solusinya
Keringat sendiri tidak berbau. Yang berbau hasil kerja bakteri yang memakannya, dan ada dua kelompok yang mengerjakannya lewat jalan yang berbeda.
- Penulis
- Abdurrahim
- Terbit
- 26 Oktober 2023
- Durasi
- 9 menit baca
Keringat tidak berbau. Ini yang paling sering keliru dimengerti. Cairan yang keluar dari kelenjar hampir tidak berbau sama sekali; baunya muncul belakangan, sesudah bakteri di permukaan kulit memecah isinya.
Ketiak jadi tempat yang paling sering bermasalah karena tiga hal bertemu di situ: lembap, hangat, dan gelap. Ditambah satu lagi yang menentukan, di ketiak ada kelenjar apokrin, yang keringatnya lebih pekat dan berlemak daripada keringat di lengan atau dahi. Bakteri lebih suka yang itu.
Dua kelompok, dua bau yang berbeda
Di sinilah banyak tulisan tentang bau ketiak jadi membingungkan, karena ada dua temuan yang kelihatannya bertentangan. Sebenarnya tidak. Keduanya benar, dan yang mereka bicarakan senyawa yang berbeda.
- 01CorynebacteriumMemecah keringat jadi asam lemak bercabang. Baunya tengik dan apek, seperti keju yang ditinggal terlalu lama.
- 02Staphylococcus hominisMenghasilkan tioalkohol. Baunya tajam, ke arah bawang dan belerang, dan terasa dari jumlah yang jauh lebih sedikit.
Tim di University of York, dengan Dan Bawdon dan pembimbingnya Gavin Thomas, menelusuri jalan yang kedua. Mereka menemukan bahwa Staphylococcus hominis paling banyak menghasilkan tioalkohol, senyawa yang menguap dengan mudah, dan yang baunya paling menyengat dari jumlah yang paling sedikit.
Chris Callewaert dari Ghent University menelusuri jalan yang pertama. Ia mengambil sampel dari lebih dari lima puluh orang dan mengulangnya selama setahun, dan menemukan bahwa dua marga bakteri hampir selalu ada di ketiak siapa pun. Staphylococci dan corynebacteria bersama-sama mengisi sekitar 77 persen dari yang teridentifikasi.
Jadi kalau ada tulisan yang bilang "penyebabnya Corynebacterium" dan tulisan lain bilang "penyebabnya Staphylococcus hominis", keduanya tidak salah. Yang pertama bicara soal bau tengik, yang kedua soal bau bawang.
YouTubeFighting against smelly armpitsChris Callewaert menceritakan sendiri penelitiannya di TEDxGhent, termasuk percobaan memindahkan bakteri ketiak dari satu orang ke orang lain.Kenapa bau laki-laki dan perempuan berbeda
Penjelasan yang sering terdengar: karena laki-laki lebih banyak bergerak. Itu tidak cocok dengan temuannya. Callewaert menemukan perbedaan susunan bakterinya: pada perempuan staphylococci lebih dominan, pada laki-laki corynebacteria.
Sebabnya di kulitnya, bukan di kegiatannya. Kulit laki-laki cenderung lebih tebal dan menghasilkan keringat yang lebih berlemak, dan corynebacteria justru memerlukan lemak untuk tumbuh. Jadi yang berbeda bukan seberapa banyak keringatnya, melainkan siapa yang memakannya.
Deodoran dan antiperspiran bukan hal yang sama
Ini perbedaan yang paling berguna diketahui, dan paling sering tertukar. Deodoran bekerja pada baunya, menekan bakteri, atau menutupi dengan wangi. Antiperspiran bekerja pada keringatnya, garam aluminium di dalamnya menyumbat sementara saluran kelenjar, jadi keringatnya berkurang.
Kalau masalahnya bau tapi keringatnya biasa saja, deodoran cukup. Kalau bajunya basah, yang dibutuhkan antiperspiran, dan deodoran berapa pun banyaknya tidak akan menyelesaikan. Banyak produk berisi keduanya, tapi tidak semua, dan itu tertulis di kemasannya.
Yang bisa dicoba selain deodoran
- Mandi dan keringkan ketiak sampai benar-benar kering. Bakteri butuh lembap; mengeringkan lebih berguna daripada menambah wangi.
- Pakai katun, bukan bahan sintetis. Katun menyerap dan melepas; sintetis menahan lembap di permukaan kulit.
- Ganti baju setiap hari. Bau yang menempel di serat kain tidak hilang dengan mandi.
- Kurangi makanan berbau tajam kalau memang terasa berpengaruh, bawang putih dan rempah kuat memang bisa keluar lewat keringat.
- Mencukur mengurangi permukaan tempat bakteri menempel, tapi jangan langsung dipakaikan apa pun yang asam atau beralkohol sesudahnya.
Dua saran yang sering beredar tapi perlu hati-hati. Pertama, memakai air jeruk nipis atau lemon di ketiak: asamnya memang menekan bakteri, tapi kulit ketiak tipis, dan sesudah dicukur ia gampang perih dan iritasi. Kedua, sabun antibakteri setiap hari: untuk kebanyakan orang sabun biasa sudah cukup, dan membunuh bakteri baik sekalian justru bisa membuat susunan bakterinya bergeser ke arah yang lebih bau.
Kalau baunya berubah tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, atau keringatnya berlebihan sampai mengganggu, itu bukan urusan deodoran lagi. Keringat berlebih punya namanya sendiri, hiperhidrosis, dan ada penanganannya.