Benarkah Meniup Makanan dan Minuman Panas Membuatnya Lebih Dingin?
Meniup memang mendinginkan, dan fisikanya jelas. Yang tidak jelas justru kabar bahwa tiupan itu bisa mengasamkan darah sampai berujung stroke.
- Penulis
- Abdurrahim
- Terbit
- 23 Oktober 2023
- Durasi
- 9 menit baca
Kopi baru dituang, sup baru diangkat. Hampir semua orang meniupnya lebih dulu. Pertanyaannya ada dua, dan keduanya menarik: apakah meniup benar-benar mendinginkan, dan kenapa Islam melarangnya.
Mendinginkan, dan ini alasannya
Jawabannya ya. Ada dua hal yang bekerja sekaligus, dan yang kedua jauh lebih besar pengaruhnya daripada yang pertama.
Yang pertama pertukaran udara. Di atas permukaan kopi panas mengendap selapis udara yang sudah ikut panas. Lapisan itu menghambat, karena panas berpindah paling cepat kalau selisih suhunya besar. Napas kita suhunya sekitar 34 derajat, agak di bawah suhu tubuh, dan itu masih puluhan derajat lebih dingin daripada kopi yang baru dituang. Meniup mengusir lapisan panas tadi dan menggantinya dengan udara yang lebih dingin, sehingga selisihnya kembali besar dan panas kembali mengalir cepat.
Yang kedua penguapan, dan inilah yang sebenarnya paling menentukan. Molekul air di permukaan yang kebetulan berenergi paling tinggi lepas ke udara jadi uap. Yang lepas membawa energinya pergi, jadi yang tertinggal rata-rata lebih dingin. Persis seperti keringat yang mendinginkan kulit.
Masalahnya, uap yang sudah lepas menggumpal tepat di atas cangkir dan membuat udara di situ jenuh. Udara yang sudah penuh uap tidak bisa menampung uap baru, jadi penguapannya melambat sendiri. Meniup menyingkirkan gumpalan uap itu, dan penguapan berjalan lagi. Itu sebabnya meniup terasa jauh lebih ampuh pada kopi dan sup daripada pada gorengan.
Yang dilarang, dan alasannya
Ada dua hadis yang menyebutkannya langsung.
إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ
Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah bernapas di dalam gelas.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الْإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernapas di dalam gelas atau meniup isinya.
Ibnul Qayyim menjelaskan alasannya, dan penjelasannya sederhana sekali.
Meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulut orang yang meniup, sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, napas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernapas di dalam gelas dengan meniup isi gelas.
Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 4/215
Yang beliau sebut itu persis yang sekarang bisa diukur: meniup melontarkan tetesan liur yang sangat halus, dan tetesan itu membawa apa saja yang ada di mulut. Pada gelas sendiri paling-paling bikin jijik. Pada makanan yang dipakai bersama, atau saat meniupkan makanan anak, ia jadi jalan penularan yang nyata.
Satu kabar yang perlu diluruskan
Beredar sejak lama sebuah penjelasan yang kelihatan ilmiah. Katanya, uap air dari makanan bertemu karbon dioksida dari napas kita dan membentuk asam karbonat. Asam itu ikut tertelan, membuat darah jadi asam, dan dalam jangka panjang mengakibatkan asma, mual, tekanan darah rendah, stroke, bahkan koma.
Reaksinya sendiri memang ada. Karbon dioksida yang larut dalam air memang membentuk sedikit asam karbonat, dan itu pelajaran kimia biasa. Yang tidak benar bagian sesudahnya.
Kenapa tidak masuk akal
- Jumlahnya terlalu kecil. Satu tiupan cuma menyentuh permukaan, dan yang sempat larut sedikit sekali. Satu kaleng air soda memuat asam karbonat ribuan kali lebih banyak daripada itu, dan tidak ada yang menganggapnya racun.
- Asam karbonat itu lemah dan tidak awet. Sebagian besar karbon dioksida yang larut tetap berupa gas terlarut, dan yang sempat jadi asam karbonat gampang terurai kembali.
- Lambung jauh lebih asam daripada apa pun yang kita minum. Asam lambung berada di kisaran pH 1,5 sampai 3,5, ratusan kali lebih asam daripada air soda. Apa pun keasaman yang masuk, di situ ia tenggelam.
- pH darah tidak ditentukan oleh yang kita minum. Ia dijaga di rentang 7,35 sampai 7,45 oleh penyangga bikarbonat, oleh pernapasan yang membuang karbon dioksida, dan oleh ginjal. Asidosis yang sungguhan datang dari penyakit paru, gagal ginjal, ketoasidosis diabetik, atau keracunan, bukan dari minuman.
Sumber kabar ini satu tulisan blog tahun 2013 tanpa penelitian di belakangnya, yang lalu disalin ke mana-mana. Tulisan aslinya sendiri menyebut angka pH darah dengan benar, tapi lompatannya dari secangkir kopi ke koma tidak pernah dijelaskan, karena memang tidak bisa.
Lalu bagaimana mendinginkannya
- Perluas permukaannya. Ini yang paling cepat dan paling sering dilupakan. Tuang ke piring lebar, potong makanannya, atau aduk perlahan. Penguapan terjadi di permukaan, jadi permukaan yang dua kali lebih luas mendinginkan kira-kira dua kali lebih cepat.
- Pindahkan ke wadah lain, lalu balik lagi. Satu kali tuang memindahkan panas ke wadah dan ke udara sekaligus.
- Kipas angin, atau taruh di tempat yang berangin. Sama persis dengan meniup, cuma tanpa liur.
- Rendam dasar wadahnya di air dingin. Jauh lebih cepat daripada menunggu, dan tidak mengencerkan isinya seperti es batu.
Yang paling sederhana tentu saja menunggu. Kopi yang didiamkan lima menit sudah turun jauh suhunya, dan tidak ada yang perlu dipertaruhkan untuk itu.