Authentic Indonesian Modeof Individual Minds

Ilmiah

Kemanakah Sampah Plastik Berakhir dan Apa Bahayanya?

Bandung sendiri menghasilkan 150 ton sampah plastik sehari, dan plastik butuh seribu tahun untuk terurai. Ke mana semuanya berakhir, dan apa yang bisa dikerjakan.

Penulis
Abdurrahim
Terbit
29 Februari 2024
Durasi
14 menit baca
Bagikan

Belum ada metode pasti untuk menghancurkan sampah plastik dengan sempurna. Masalah plastik ini sudah lama ada dan jadi masalah kita semua, seperti yang dilaporkan situs VIVAnews pada 2012 silam.

Sampah plastik sekarang sudah 20 sampai 30 persen, belum ditambah lagi sampah seperti kayu log yang datang dari Kalimantan dan Sulawesi Tengah. Jelas ini sangat mengancam kelestarian terumbu karang.

Jeffry Pasinaung, Direktur Pengelola Taman Nasional Bunaken, VIVAnews, 14 Januari 2012

Berdasarkan data statistik, dalam satu hari saja Kota Bandung menghasilkan sekitar 150 ton sampah plastik.

Asumsinya, kalau dalam satu hari sampah yang dihasilkan di Bandung sekitar 1.500 ton, 20 persennya sampah anorganik, yang terbagi 10 persen sampah plastik dan 10 persen lagi sampah nonplastik. Jadi dalam sehari saja bisa menghasilkan 150 ton sampah plastik.

Rekotomo

Dari penjelasan itu, apakah kita sudah menghitung berapa banyak plastik yang kita pakai setiap hari? Plastik makanan, plastik wadah belanja dari minimarket, supermarket, dan pedagang kaki lima, serta botol plastik minuman adalah beberapa jenis yang paling umum dipakai.

YouTubeThe Majestic Plastic Bag: A MockumentaryPerjalanan satu kantong plastik dari supermarket sampai ke laut, difilmkan seperti dokumenter satwa liar.

Bayangkan berapa banyak orang yang hidup di dunia dan memakai plastik setiap harinya. Terdengar mengerikan, bukan?

Plastik adalah hasil polimerisasi yang bermanfaat secara ekonomi namun merugikan lingkungan. Ia sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern kita, dan manfaat ekonominya memang besar. Plastik merevolusi cara industri memproduksi berbagai barang, dari kemasan makanan sampai peralatan rumah tangga.

Namun di sisi lain, limbah plastik mencemari lautan, mengancam kehidupan laut, dan memengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Tantangan besar bagi kita adalah bagaimana mengurangi plastik sekali pakai dan mengembangkan penggantinya yang ramah lingkungan.

YouTubeHow We Can Keep Plastics Out of Our OceanNational Geographic.

Video pertama maupun kedua memperlihatkan bagaimana sampah plastik kebanyakan berakhir di lautan, dan itu mengancam ekosistemnya.

Kenapa sampah plastik begitu berbahaya?

  • Plastik perlu sekitar 1.000 tahun untuk terurai sempurna di tanah. Itu waktu yang sangat lama.
  • Saat terurai, partikel-partikel plastik mencemari tanah dan air tanah.
  • Lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia setiap tahun, dan jumlahnya tumbuh sekitar 5 persen per tahun. Satu triliun kantong plastik diproduksi tiap tahun, yang kalau dibentangkan bisa membungkus benda sepuluh kali lipat ukuran bumi.
  • Kalau dibakar, sampah plastik menghasilkan asap beracun. Plastik terurai di udara sebagai dioksin, senyawa yang berbahaya bila terhirup, dan dampaknya bisa memicu kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, serta depresi.
  • Sampah plastik bisa menyebabkan banjir karena menyumbat saluran air, dan yang terburuk merusak turbin waduk.
  • Produksi plastik memerlukan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahun. Prosesnya sangat tidak efisien secara energi.
  • Di tempat pembuangan akhir, sampah plastik mengeluarkan gas rumah kaca.
  • Akibat dari semua itu adalah efek rumah kaca atau pemanasan global yang semakin terpuruk.

Lalu ke mana sampah plastik selama ini berakhir?

Faktanya sampah plastik masih jadi persoalan penting, karena belum ada cara pasti untuk memecah plastik dengan aman tanpa merusak lingkungan. Selama ini ada beberapa hal yang dilakukan orang terhadapnya.

  1. 01Dikubur di tanahTetap saja tidak efektif, karena perlu ribuan tahun sampai terurai, dan sementara itu ia mencemari tanahnya.
  2. 02Dibuang ke tempat pembuangan akhirBercampur dengan sampah lain, dan di sana ia menciptakan racun serta gas yang menyebabkan pemanasan global.
  3. 03DibakarKebiasaan yang umum di kalangan penduduk, termasuk di negara lain. Metode ini tidak efektif karena pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan gas beracun yang berbahaya bila terhirup.
  4. 04Dibuang ke lautIni tidak efektif dan berdampak buruk, meskipun sudah ada aturannya. Konvensi Internasional tentang Pencegahan Pencemaran dari Kapal 1973, yang diperbarui Protocol of 1978 Annex V, melarang pembuangan sampah plastik ke laut, termasuk kantong plastik, tali sintetis, dan jaring sintetis.Sampah makanan dan sampah lainnya tidak boleh dibuang ke laut dalam jarak 12 mil dari daratan, kecuali sudah digiling dan bisa menembus saringan berbukaan tidak lebih dari 25 mm. Dalam jarak 3 mil dari darat, sampah tetap dilarang dibuang ke laut walaupun sudah digiling.

Menarik untuk membahas akhir dari perjalanan sampah plastik. Video ketiga ini menceritakan bagaimana botol plastik berakhir di laut lepas.

YouTubeWhat Really Happens to the Plastic You Throw AwayEmma Bryce, TED-Ed.

Dalam artikel di Metro TV News dijelaskan bahwa sampah plastik yang ringan dan biasanya mengapung ternyata dapat tenggelam. Ini pernah diamati dua pakar ilmu kelautan dari University of Washington dan University of Delaware, Amerika Serikat.

Para pakar menemukan ada 2,5 kali lebih banyak puing sampah di lapisan air bawah permukaan, sekitar 25 cm dari permukaan. Puing-puing itu terbawa angin sampai kedalaman sekitar 20 hingga 25 meter.

Dalam sumber lain, Kompasiana menyebutkan bahwa pada 2001 dilakukan kajian yang menduga adanya sekitar 334.271 lembar plastik per mil persegi di pusaran Pasifik Utara Tengah. Pusaran ini merupakan sistem arus eddy yang mengumpulkan benda-benda pada satu titik. Sebagian besarnya, 60 sampai 80 persen sampah di laut, diduga berasal dari daratan.

Sampah plastik di laut menimbulkan masalah pada 267 spesies biota laut di seluruh dunia. Kalau dihitung per kelompok, sebarannya begini.

  • Spesies kura-kura86%
  • Spesies burung laut44%
  • Spesies mamalia laut43%
Berapa persen spesies di tiap kelompok yang terdampak sampah plastik di laut.

Laut Arktik pun jadi gunung sampah plastik dunia. Penduduk bumi yang hidup di lima benua ini sudah membuat Laut Arktik jadi tempat sampah raksasa. Ilmuwan NASA, Joey Comiso, merilis hasil penelitian yang menemukan bahwa lapisan es tertua di Laut Arktik mencair dan menghilang dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding lapisan es yang muda dan tipis.

Riset yang dilakukan Dr. Melanie Bergmann, ahli biologi laut dari Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research, juga merilis temuan bahwa di bawah Laut Arktik terdapat sampah plastik yang semakin menebal. Pengamatan lain di Observatorium Dasar Laut HAUSGARTEN milik lembaga yang sama menunjukkan lapisan sampah plastik di wilayah itu lebih tebal daripada yang pernah ditemukan di ngarai laut dekat Lisbon, ibu kota Portugal.

Tidak hanya itu, plastik di lautan mencemari dan meracuni hewan laut. Ini membuat nelayan sulit mendapat banyak ikan, dan ikan yang mereka tangkap pun mungkin sudah terkontaminasi sampah laut, yang berbahaya kalau dikonsumsi manusia.

Bahaya sampah plastik yang mencemari laut

  1. 01Mengancam kesehatan hewan lautKantong plastik, sedotan, dan potongan kecil lainnya dapat tertelan hewan laut seperti penyu, ikan, dan burung laut. Akibatnya cedera serius, bahkan kematian.
  2. 02Mencemari lingkunganSampah plastik merusak ekosistem laut dan berdampak pada kehidupan biota laut serta berbagai organisme laut mikro.
  3. 03Merusak terumbu karangLimbah plastik yang berakhir di laut dapat merusak terumbu karang yang sangat penting bagi kehidupan laut, dan itu memengaruhi keanekaragaman hayati serta ekologi di perairan.
  4. 04Mengancam manusiaKetika ikan yang terkontaminasi plastik dikonsumsi manusia, kesehatan manusianya yang terancam.
  5. 05Merugikan ekonomiPencemaran laut oleh sampah plastik berdampak pada sektor ekonomi, misalnya pariwisata dan perikanan.

Maka mencegah penimbunan sampah plastik di laut serta mengelola limbah plastik secara bertanggung jawab sangatlah penting untuk melindungi lingkungan laut dan kehidupan di dalamnya.

Bagaimana cara menyelesaikannya?

  1. 01ReducePakai plastik lebih sedikit kalau memang tidak diperlukan untuk membungkus atau membawa makanan.
  2. 02ReusePakai wadah yang bisa dipakai berulang-ulang, contohnya wadah atau tas dari kain.
  3. 03Buang sampah pada tempatnyaYang paling sederhana, dan paling sering dilewatkan.
  4. 04Jangan dibakarMembakar plastik menukar satu masalah dengan masalah lain yang terhirup.
  5. 05RecycleSampah plastik bisa dipakai membuat karya seni atau barang kreatif yang berguna lagi dan punya nilai ekonomi.

Daur ulang sampah plastik mungkin bukan solusi terbaik, tapi untuk sekarang ia yang paling berguna bagi lingkungan dan masyarakat. Banyak orang mendaur ulang sampah plastik jadi karya seni yang bernilai, dan itu menciptakan pekerjaan bagi daerah setempat.

Adakah solusi lain?

Dalam artikel di Kompasiana disebutkan bahwa seorang peneliti dari perusahaan Blest di Jepang menemukan alat untuk mendaur ulang bahan plastik. Alat ini dapat mengubah sampah plastik jadi minyak mentah.

Siapa pun bisa memakainya di rumah karena alatnya kecil, cukup diletakkan di atas meja, dan cuma butuh waktu beberapa saat. Prosesnya dengan memanaskan plastik sampai meleleh menjadi gas, lalu gas itu didinginkan sehingga mengembun jadi minyak.

Setiap kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter minyak mentah, yang kemudian dapat diolah jadi bensin atau produk lain, sama seperti minyak mentah biasa. Blest menjual alat ini seharga sekitar 9.500 dolar AS.

Dalam beberapa artikel dan video di negara lain, banyak orang yang peduli lingkungan mendaur ulang plastik jadi produk bernilai tinggi, seperti kursi dan campuran bahan jalan raya.

Memanfaatkan kembali plastik untuk menciptakan produk bernilai tinggi bukan cuma mengurangi limbah, tapi juga membuka peluang ekonomi baru. Lewat inovasi dalam pengelolaan limbah plastik, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus perekonomian yang berkelanjutan.

Tulisan berikutnya