5 Cara Pandang Muslim Terhadap Musibah
Musibah bukan tanda Allah membenci. Lima cara memandangnya, dari penghapus kesalahan sampai janji ganti yang lebih baik.
- Penulis
- Ustad Farhan Fauzan
- Terbit
- 20 Agustus 2025
- Durasi
- 7 menit baca
Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada pria ada pula wanita, ada siang dan malam, ada langit dan bumi, ada zahir dan batin, ada baik dan buruk, begitu pun ada kamu dan aku. Semuanya diciptakan berpasangan sesuai sunatullah yang Allah gariskan, senada dengan apa yang ditegaskan dalam surah Adz-Dzariyat ayat 49.
Tak terelak pula siklus kehidupan yang dialami manusia. Pasti adakalanya berduka dan berbahagia, terikat pada dua momen yang dilalui berupa anugerah dan musibah.
Kebanyakan manusia mengharap hari yang dijalaninya senantiasa diisi anugerah yang akan mengantarkan pada kebahagiaan dan kenyamanan hidup. Mereka enggan mengalami musibah dan senantiasa menghindarinya. Hal ini wajar, karena musibah menurut para ulama diterjemahkan sebagai kullu makruuhin yahullu bil insaan, yakni segala bentuk yang dibenci yang menimpa manusia.
Bagi seorang muslim, musibah adalah hal yang biasa. Hal yang niscaya menimpanya, dan musibah merupakan ujian dari Allah sang pencipta. Seorang muslim yakin bahwa di samping bahagia kita pun pasti akan diuji dengan nestapa. Ujian berupa musibah bukanlah beban dan bukan sesuatu yang tak bisa dilepaskan.
Musibah adalah ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran dan penuh rasa optimistis, karena yakin bahwa musibah ada dalam takdir yang Allah beri dan Allah tahu kita mampu melewatinya. Pasti selalu akan ada hikmah di baliknya. Ingatlah bahwa segala yang terjadi di muka bumi ini merupakan takdir-Nya, dan tidak akan terjadi kecuali atas izin-Nya. Allah berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَة فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰب مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِير
Setiap musibah yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
Pandanglah musibah sebagai ujian yang akan mengangkat harkat dan derajat kita di sisi Allah Ta’ala. Ridalah dengan seluruh kesulitan yang hadir bersamanya, karena Allah memberi musibah bukan untuk menzalimi kita, bukan pula sebab membenci kita.
01Musibah menghapus kesalahan dan mengundang pahala
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.
02Musibah adalah tanda cinta dari Sang Pencipta
Bisa kita renungkan hadis dari Anas bin Malik. Nabi saw bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya pahala yang besar adalah balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barang siapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barang siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.
03Musibah adalah barometer keimanan
Hayatilah firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat 2 dan 3.
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.
04Musibah jadi jalan mendapat rahmat dan petunjuk
Renungkanlah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 155 sampai 157.
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
05Tidak datang musibah kecuali datang ganti yang lebih baik
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَت: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا، قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
Diriwayatkan dari **Ummu Salamah** ra, istri Nabi saw, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang hamba pun yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, allahumma’jurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa (segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada-Nya; ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik), melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” **Ummu Salamah** kembali berkata, “Ketika **Abu Salamah**, suamiku, wafat, aku pun mengucapkan doa sebagaimana yang Rasulullah saw ajarkan kepadaku. Maka Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu, yaitu Rasulullah saw.”