Peran Badak dalam Ekosistem sebagai Pemotong Rumput
Badak putih memangkas rumput tinggi jadi hamparan pendek, dan hamparan itu yang dimakan zebra dan kijang. Hilang badaknya, hilang juga meja makannya.
- Penulis
- Abdurrahim
- Terbit
- 24 Oktober 2024
- Durasi
- 9 menit baca
Hewan besar mengubah tempat tinggalnya, bukan cuma menempatinya. Gajah merobohkan semak dan membuka jalan. Serigala di Yellowstone menekan jumlah rusa, dan tepi sungai yang tadinya gundul tumbuh kembali. Badak mengerjakan hal yang serupa, dengan cara yang lebih sepi: ia memotong rumput.
Satu koreksi lebih dulu, karena sering salah disebut. Badak bukan keluarga Bovidae. Itu keluarga sapi, kambing, dan antelop. Badak masuk Rhinocerotidae, dan kerabat terdekatnya justru kuda dan tapir, bukan sapi. Ketiganya sama-sama berjari kaki ganjil.
Dan tanduknya bukan tanduk sungguhan. Tanduk sapi punya inti tulang di dalamnya; tanduk badak tidak. Isinya keratin, bahan yang sama dengan kuku dan rambut, dipadatkan. Ini penting, karena sebagian besar perburuannya didorong keyakinan bahwa tanduk itu obat. Yang dibeli dengan harga setara emas itu, secara bahan, sama dengan kuku sendiri.
Lima jenis, bukan empat
| Jenis | Di mana | Keadaan |
|---|---|---|
| Badak putih | Afrika selatan | Paling banyak |
| Badak hitam | Afrika timur | Terancam kritis |
| Badak India | India, Nepal | Perlahan pulih |
| Badak Sumatera | Sumatra | Di bawah 50 |
| Badak Jawa | Ujung Kulon | Di bawah 100 |
Badak sebagai mesin pemotong rumput
Peneliti dari Skandinavia dan Afrika Selatan meneliti badak putih di Taman Nasional Kruger, dan Kruger kebetulan tempat yang hampir sempurna untuk itu. Badak putih di sana habis diburu sampai lenyap pada akhir 1800-an, lalu dimasukkan kembali mulai 1960-an. Jadi ada sebelum, ada sesudah, dan ada catatannya.
Temuannya: di petak yang badaknya banyak, tumbuh hamparan rumput pendek yang luas. Di petak yang badaknya sedikit, rumput tinggi mengambil alih.
Badak putih pemakan rumput dengan mulut lebar dan rata, bentuk yang memang untuk memangkas rapat ke tanah. Dengan berat dua ton dan makan sepanjang hari, ia menahan rumput tetap pendek di petak yang sama tahun demi tahun. Rumput pendek yang terus dipangkas itu tumbuh lebih rapat, lebih muda, dan lebih bergizi.
Hamparan itulah yang dimakan zebra, kijang, dan rusa Afrika, hewan yang mulutnya tidak bisa menangani rumput tinggi. Jadi badak bukan bersaing dengan mereka, ia menyiapkan tempat makan mereka. Itu sebabnya ia disebut insinyur ekosistem: yang ia ubah bukan jumlah rumputnya, melainkan bentuk seluruh padangnya.
Hilangkan badaknya, dan rumput tinggi menutup semuanya. Bukan cuma badaknya yang hilang, hewan yang bergantung pada rumput pendek ikut kehilangan makanannya, dan padang yang lebat rumput tinggi juga lebih mudah terbakar.
Angka yang berubah cepat
Banyak tulisan tentang badak Kruger masih mengutip angka sekitar sepuluh ribu ekor badak putih. Angka itu benar untuk awal 2010-an, dan sudah tidak benar sekarang.
Perburuan yang memuncak pada pertengahan 2010-an, ditambah kekeringan panjang, memangkas populasi badak putih di Kruger sampai tinggal sebagian kecilnya. Perburuan di Afrika Selatan sendiri sudah jauh menurun dari puncaknya, tapi sebagiannya karena badaknya memang tinggal lebih sedikit untuk diburu, penurunan yang bukan kabar baik.
Yang paling genting justru di sini
Dua dari lima jenis badak dunia ada di Indonesia, dan dua-duanya yang paling dekat ke kepunahan.
Badak Jawa cuma ada di Ujung Kulon, satu taman, satu semenanjung, tidak ada populasi cadangan di mana pun. Jumlahnya di bawah seratus. Artinya satu wabah penyakit, satu tsunami, atau satu letusan besar dari Anak Krakatau yang tepat di seberangnya bisa menghabiskan seluruh spesies sekaligus.
Badak Sumatera lebih sedikit lagi, dan masalahnya berbeda: sisanya terpencar di kantong-kantong hutan yang saling terputus, jadi yang jantan dan yang betina bisa saja tidak pernah bertemu seumur hidup. Punah pelan-pelan bukan karena diburu habis, tapi karena tidak sempat berkembang biak.
Sedikit ironi sebagai penutup: badak jauh lebih dikenal orang Indonesia sebagai nama minuman dari Medan daripada sebagai hewan yang tinggal beberapa puluh ekor di ujung barat Jawa.