5 Manfaat Besar Offline Store dan Tantangannya
Dua tahun menjalankan toko dan tiga tahun ikut expo mengubah beberapa hal yang saya kira sudah saya ketahui dari berjualan online, termasuk siapa sebenarnya yang membeli.
- Penulis
- Abdurrahim
- Terbit
- 17 September 2026
- Durasi
- 8 menit baca
Membuka offline store memang tidak mudah dan tidak murah. Ada biaya sewa, dekorasi, hingga biaya operasional yang terus berjalan. Beban itu bisa diakali dengan memilih lokasi yang sesuai dengan karakter brand, dan tokonya tidak perlu besar.
Memulai dengan toko secukupnya adalah pilihan yang bijak. Terlebih kalau offline dan online dipadukan: tokonya sekaligus jadi gudang stok, ruang display produk, dan tempat memproses pesanan online. Dengan cara ini, biaya offline store bisa ditekan secara signifikan.
Di balik suka dukanya, memiliki offline store, meski tidak besar, memberikan beberapa manfaat yang menurut saya tidak bisa didapatkan dari online shop saja.
01Riset pemasaran lebih akurat
Riset atau survei memang penting. Tapi berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan pelanggan memberikan insight yang jauh lebih akurat.
Henry Manampiring membahas hal ini dengan sangat jelas dalam bukunya Belajar Marketing Belajar Hidup, di bab Riset Pemasaran. Salah satu poin yang paling mengena adalah bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam budaya konteks tinggi: maksud lebih sering disampaikan tersirat daripada terucap, dan itu memengaruhi tingkat kejujuran responden.
Banyak orang merasa sungkan, sehingga pendapat jujur, termasuk suka atau tidaknya pada sebuah produk, jarang disampaikan secara tegas. Karena itu Manampiring menyarankan bahwa untuk pasar Indonesia yang perlu diperhatikan adalah apa yang orang lakukan, bukan apa yang mereka katakan.

Dalam praktiknya, riset juga perlu memperhatikan gestur tubuh dan ekspresi wajah konsumen: apakah mereka benar-benar menyukai produknya, atau sekadar bersikap sopan.
Setelah tiga tahun mengikuti expo dan dua tahun menjalankan offline store, saya merasakan sendiri bahwa riset seperti ini hanya bisa didapatkan lewat interaksi langsung. Kami bisa melihat bagaimana respons konsumen terhadap produk. Mereka bahkan tak segan memberi saran ketika kurang suka, menyampaikan produk seperti apa yang mereka inginkan, sampai menilai kenyamanan toko: kebersihan, kerapian, aroma ruangan, dan sejuknya suhu di dalam toko.
Hasil riset ini tetap perlu dikelompokkan dan ditinjau kembali sebagai bahan menyusun strategi pemasaran berikutnya, termasuk pengembangan produk yang diharapkan konsumen.
02Menemukan target pasar yang sebenarnya
Saat Gomuda masih berjualan online saja, saya mengira target pasarnya anak muda di bawah 35 tahun. Kenyataannya, setelah banyak mengikuti pameran dan tradeshow, gambarannya sangat berbeda. Pembeli offline Gomuda kebanyakan berusia di atas 35 tahun.
Mereka relatif mapan dan lebih memahami kualitas knitwear dibandingkan pembeli online yang umumnya belum terlalu mengenal jenis bahan ini. Karena itu saya mengubah target pasar jadi usia 30 sampai 55 tahun, dan keputusan ini terbukti lebih tepat.
Saat ini konsumen Gomuda, baik offline maupun online, sebagian besar berusia di atas 30 tahun, sudah berkeluarga, dan berasal dari kelas menengah atas. Dengan gambaran sejelas itu, branding dan marketing bisa jauh lebih fokus.
03Social proof dan word of mouth lebih mengalir
Google Maps jadi pintu bagi konsumen untuk menemukan lokasi toko sekaligus membaca ulasan yang jujur. Konsumen yang penasaran datang langsung, membeli produk, lalu menulis ulasan tentang kenyamanan toko, pelayanan tim kami, dan kualitas produk yang mereka coba dan rasakan sendiri. Semua pengalaman itu terlihat jelas bagi calon pembeli berikutnya.

Rekomendasi dari mulut ke mulut pun berdampak sangat positif: dari orang tua ke anak atau sebaliknya, dari saudara ke saudara, dari teman ke teman. Satu per satu pelanggan baru berdatangan, dan hal ini benar-benar membuat Gomuda semakin dikenal secara offline serta meningkatkan penjualan di toko.
Paul Jarvis dalam bukunya Company of One menjelaskan kenapa rujukan sekuat itu: ia didukung rasa percaya yang didasari kedekatan. Rekomendasi terasa kredibel karena datang dari orang yang kita percayai, yang lebih dulu memercayai sebuah brand atau produk. Jarvis mengutip penelitian SmallBizTrends yang menemukan 83 persen pelanggan baru berasal dari rujukan mulut ke mulut.

Angka yang mirip datang dari arah yang lain. Studi Jay Baer dan Daniel Lemin (2018) terhadap konsumen di Amerika Serikat menemukan 83% responden mengaku keputusan pembelian mereka dipengaruhi rekomendasi dari mulut ke mulut. Keluarga dan teman jadi sumber informasi penting sebelum membeli: 46% responden merujuk pada keluarga dan 45% pada teman.
04Pengalaman belanja yang lebih baik
Lebih baik di sini bukan berarti lebih mudah atau lebih murah; untuk urusan itu belanja online mungkin unggul. Yang saya maksud, konsumen bisa merasakan kualitas produk secara langsung, berkonsultasi, mencoba pakaian, bahkan berbelanja sambil berlibur dan melepas penat.
Pengalaman ini harus menyenangkan dan nyaman. Tokonya perlu terasa ramah dan mengundang, dengan suasana nyaman serta dekorasi dan tone warna yang mencerminkan identitas brand.
Pelayanannya pun harus ramah dan maksimal. Tim toko idealnya bisa berperan sebagai konsultan produk sekaligus stylist bagi konsumen, karena banyak pelanggan yang ingin diperhatikan dan dibantu menemukan padu padan pakaian yang pas untuk aktivitas mereka.
Integrasi dengan kanal online juga wajib. Dengan menyatukan offline dan online, konsumen lebih mudah melakukan pembayaran, pengembalian, atau penukaran barang, atau sekadar melihat-lihat di toko lalu membelinya secara online.
05Membangun branding dan kepercayaan
Salah satu tujuan utama mengikuti expo dan membuka offline store adalah branding: membangun kepercayaan pelanggan, yang tentu diharapkan berujung pada penjualan yang baik. Dampaknya memang tidak langsung terasa, tapi kehadiran toko fisik memberi nilai lebih yang sulit ditiru toko yang hanya ada di layar ponsel.
- 01Menumbuhkan rasa amanToko fisik dengan alamat jelas menunjukkan bahwa brand ini serius dan bertanggung jawab. Konsumen tahu ke mana harus datang kalau ada pertanyaan, keluhan, atau ingin menukar barang.
- 02Membentuk ingatanSentuhan bahan knitwear, aroma ruangan, dekorasi, hingga keramahan tim meninggalkan kesan yang membuat brand lebih mudah diingat saat konsumen membutuhkan pakaian.
- 03Membuktikan klaim onlineKetika produk di toko sesuai dengan foto dan deskripsi di Instagram, marketplace, atau website sendiri, kredibilitas brand makin kuat. Banyak pembeli online jadi lebih yakin setelah pernah datang langsung.
- 04Menyebarkan kepercayaanKonsumen yang puas akan menulis ulasan dan merekomendasikan brand kepada keluarga serta teman, tanpa perlu biaya iklan tambahan.
- 05Menjadi aset jangka panjangKonsumen yang sudah percaya tidak mudah berpindah hanya karena ada produk serupa yang lebih murah.
Pada akhirnya niat membeli makin kuat karena produknya tersedia online maupun offline, dengan keyakinan bahwa di balik layar ada brand yang nyata dan bisa ditemui langsung.
Tantangan offline store
Di samping manfaat di atas, offline store punya tantangan yang cukup berbeda dengan online store.
- 01Modal awal jauh lebih besarSewa toko, dekorasi, dan kebutuhan lainnya membutuhkan biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan online shop yang bisa langsung berjualan hampir tanpa modal tempat.
- 02Lokasi sangat menentukanPemilihan lokasi berpengaruh besar pada keberhasilan toko, sehingga perlu riset mendalam dan kehati-hatian. Hal yang sama berlaku saat memilih lokasi expo.
- 03Jadwal kerja tim lebih kakuOffline store harus tetap buka meski sedang sepi pengunjung, berbeda dengan online yang lebih fleksibel dan pesanannya bisa diproses sekaligus.
- 04Pengetahuan produk tim sangat berpengaruhKualitas pelayanan, kepercayaan konsumen, sampai ulasan yang baik sangat bergantung pada tim yang memahami produk dengan baik dan bersikap profesional.
- 05Kebersihan dan kenyamanan harus terjagaToko yang bersih, rapi, dan nyaman adalah syarat utama agar konsumen betah dan mau kembali.
Penutup
Offline store memang menuntut modal, tenaga, dan komitmen yang lebih besar dibandingkan berjualan online. Tapi manfaat yang didapat, mulai dari riset yang lebih akurat, target pasar yang lebih jelas, rekomendasi dari mulut ke mulut, pengalaman belanja yang berkesan, sampai kepercayaan terhadap brand, jadi investasi jangka panjang yang sulit digantikan.
Kuncinya bukan membuka toko sebesar mungkin, melainkan memulai secukupnya, memilih lokasi yang tepat, dan memadukannya dengan kanal online. Dengan begitu offline dan online saling menguatkan, bukan saling bersaing.
Kalau Anda sedang di Bandung, silakan mampir ke toko Gomuda Knitwear di Jl. Jurang No. 103, Pasteur. Rasakan langsung kualitas knitwear kami, dan tim kami siap membantu memilihkan padu padan yang pas untuk Anda.
Beberapa tautan di sini menghasilkan komisi kecil kalau kamu belanja lewat sana. Harganya tidak berubah untukmu, dan saya hanya menaruh barang yang benar-benar saya pakai.